
Ketika seseorang mengalami self-esteem rendah, dampaknya bisa merembes ke banyak area hidup. Hubungan, pekerjaan, hingga cara mengambil keputusan. Banyak orang tidak menyadari bahwa perasaan minder, takut salah, atau sering mengalah bukan sekadar “sifat”, tetapi pola yang terbentuk dari pengalaman masa kecil, hubungan yang tidak sehat, atau lingkungan kerja yang terlalu menekan.
Seperti cermin yang buram, self-esteem rendah membuat seseorang melihat dirinya jauh lebih kecil dari kenyataan.
Tanda-Tanda yang Sering Dianggap Biasa
Banyak perilaku sehari-hari sebenarnya merupakan sinyal bahwa seseorang sedang berjuang dengan keyakinan dirinya. Misalnya:
-
Selalu berkata “iya” meski sebenarnya keberatan.
-
Mengalah demi menjaga suasana, bahkan saat marah atau tersinggung.
-
Overthinking sebelum mengirim pesan sederhana, takut dianggap salah.
-
Merasa bersalah ketika mengambil waktu untuk diri sendiri.
Dalam hubungan, pola seperti people pleasing, fawning response (berusaha terlalu keras membuat orang lain nyaman), atau takut konflik sering muncul. Sementara di tempat kerja, seseorang mungkin menunda mengajukan ide karena yakin pendapatnya tidak berharga.
Data survei ringan menunjukkan bahwa sebagian besar orang dewasa pernah mengalami fase meragukan dirinya, terutama setelah mengalami tekanan hubungan atau lingkungan kerja yang kompetitif. Namun jika gejalanya menetap, itu bukan lagi fase, melainkan pola yang perlu diperhatikan.
Secara sederhana, self-esteem rendah mirip baterai ponsel yang rusak: meski sudah di-charge, cepat sekali habis. Energi mental terasa menipis karena terlalu fokus menyenangkan orang lain dan menghindari kesalahan.
Dampak pada Kehidupan Sehari-Hari
Pengaruh self-esteem rendah bisa muncul dalam perilaku kecil tetapi berulang. Contohnya:
-
Sulit percaya orang lain karena pernah dikhianati atau diremehkan.
-
Pola menghindar, seperti menunda percakapan penting atau menjauh saat hubungan mulai dekat.
-
Takut mengambil keputusan, karena merasa diri tidak cukup kompeten.
-
Mudah merasa gagal, walaupun pencapaiannya sebenarnya baik.
Di lingkup rumah tangga, seseorang mungkin menahan pendapat demi menghindari pertengkaran. Dalam pekerjaan, ada yang bekerja dua kali lebih keras hanya untuk merasa “layak”. Bahkan dalam pertemanan, mereka sering takut menjadi beban sehingga memilih diam.
Riset perilaku menunjukkan bahwa banyak orang dewasa membawa pola ini dari masa kecil. Misalnya tumbuh dalam keluarga yang penuh kritik atau tidak mendapat ruang untuk mengekspresikan perasaan. Ada juga yang terbentuk setelah trauma hubungan, seperti pernah diremehkan oleh pasangan atau mengalami pengkhianatan.
Jika Anda merasa pola-pola ini mulai mengganggu hidup, pendekatan seperti hipnoterapi profesional ICHII dapat membantu Anda memahami akar perasaan tersebut dan membangun kembali kepercayaan diri secara bertahap. Prosesnya dirancang lembut, aman, dan fokus pada pemulihan pola pikir sehingga Anda bisa melihat diri sendiri dengan lebih jernih.
Ciri Trauma Tersembunyi yang Sering Diabaikan
Beberapa tanda tidak tampak jelas, namun sangat umum dialami:
-
Fawning / people pleasing: merasa hanya disukai jika selalu menuruti orang lain.
-
Takut konflik: jantung berdebar hanya memikirkan perbedaan pendapat kecil.
-
Menghindari kedekatan emosional karena takut disakiti lagi.
-
Overthinking berkepanjangan, bahkan soal hal sepele seperti pesan pendek atau ekspresi orang lain.
-
Meremehkan diri sendiri, meskipun orang lain melihat banyak potensi.
Trauma semacam ini bekerja seperti luka lama yang tidak terlihat. Tidak berdarah, tetapi tetap perih ketika tersentuh. Analoginya seperti berjalan dengan sepatu yang sedikit kebesaran: tidak langsung terasa menyakitkan, tetapi lama-lama membuat langkah tidak stabil.
Beberapa contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari:
-
Menolak kesempatan kerja bagus karena merasa “belum pantas”.
-
Tetap bertahan di hubungan tidak sehat karena takut ditinggalkan.
-
Selalu meminta maaf meski tidak salah.
-
Mengira orang lain marah hanya karena nada bicara mereka berubah.
Sinyal-sinyal kecil ini menunjukkan bahwa seseorang tidak sedang malas atau sensitif berlebihan, melainkan membawa beban emosional yang belum selesai.
Jika tanda-tanda di atas terasa dekat dengan pengalaman Anda, memahami pola ini adalah langkah awal yang penting. Banyak orang berhasil keluar dari siklusnya setelah mendapat bantuan yang tepat, karena self-esteem bukan bawaan lahir, melainkan sesuatu yang bisa dibangun kembali dengan cara yang sehat dan terarah.