
Ketika kepala menyentuh bantal, sebagian orang justru menghadapi gelombang overthinking malam hari. Pikiran berputar tanpa henti, mengulang kejadian seharian, atau membayangkan skenario terburuk. Fenomena ini sangat umum dialami orang dewasa, terutama usia 25+, karena fase hidup yang penuh tanggung jawab: pekerjaan, hubungan, keluarga, hingga beban emosional masa lalu.
Banyak yang menggambarkan ini seperti lampu jalanan: siang hari semuanya terlihat samar, tetapi begitu gelap datang, detail mulai tampak jelas, bahkan terlalu jelas. Pikiran yang sempat teralihkan akhirnya muncul satu per satu.
Kenapa Overthinking Muncul Justru di Malam Hari?
Malam hari adalah waktu ketika tubuh berhenti beraktivitas, tetapi pikiran justru “menagih” hal-hal yang belum selesai. Tanpa distraksi, otak seperti ruang kosong yang memantulkan suara kita sendiri.
Beberapa pemicu umum yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari:
-
Mengingat ulang percakapan dan merasa “harusnya aku jawabnya begini”.
-
Khawatir soal pekerjaan besok, karena takut mengecewakan atasan.
-
Merasa bersalah tidak membalas pesan seseorang cepat-cepat.
-
Menyusun skenario buruk padahal situasi belum tentu terjadi.
Riset ringan menunjukkan bahwa manusia cenderung memikirkan lebih banyak hal negatif ketika tubuh lelah. Sama seperti ketika jalan gelap membuat bayangan tampak lebih besar, kelelahan membuat masalah kecil terasa seperti ancaman besar.
Di balik kebiasaan overthinking malam hari, sering ada pola yang tertanam sejak lama, misalnya:
-
People pleasing, takut membuat orang lain kecewa.
-
Takut konflik, memilih diam meski sebenarnya tidak setuju.
-
Sulit percaya orang lain, sehingga selalu membayangkan kemungkinan terburuk.
-
Fawning response, cenderung selalu mengalah untuk merasa aman.
-
Pola menghindar, menunda keputusan karena takut salah.
Semua ini sering menjadi sisa-sisa pengalaman masa kecil, hubungan yang pernah melukai, atau tekanan lingkungan kerja yang membuat seseorang merasa harus “sempurna”.
Trauma yang Tidak Disadari Sering Menjadi Pemicu
Banyak orang mengira trauma hanya berbentuk kejadian besar. Padahal, pengalaman sehari-hari yang membuat seseorang merasa tidak aman juga bisa meninggalkan jejak panjang. Jejak inilah yang muncul kembali ketika suasana hening.
Contoh sederhana:
-
Seseorang yang terbiasa dimarahi saat kecil bisa tumbuh menjadi dewasa yang selalu mengecek ulang pekerjaannya berkali-kali.
-
Mereka yang sering dibandingkan mungkin merasa tidak cukup berharga, sehingga sulit tidur karena memikirkan “Apakah aku sudah melakukan yang terbaik hari ini?”
-
Orang yang pernah mengalami hubungan penuh kritik cenderung memeriksa ulang setiap kata yang ia ucapkan.
Ciri-ciri trauma yang sering tersembunyi namun memicu overthinking:
-
Selalu merasa bersalah, bahkan untuk hal kecil.
-
Takut orang lain marah padanya.
-
Merasa harus sempurna untuk diterima.
-
Menghindari keputusan penting karena takut salah.
-
Susah tidur karena pikiran tidak pernah “tenang”.
Pada titik tertentu, pola ini terasa seperti sedang menonton ulang film yang sama setiap malam, hanya saja tidak ada tombol stop.
Cara Meredakan Overthinking dan Menguraikan Akar Masalah
Menghentikan overthinking bukan sekadar “mencoba lebih santai”. Pikiran yang berputar biasanya berasal dari kebutuhan untuk merasa aman. Ketika akarnya belum tersentuh, pola itu akan selalu muncul kembali.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba:
-
Menuliskan isi pikiran sebelum tidur.
-
Mengatur batasan dalam pekerjaan dan hubungan.
-
Membiasakan diri mengatakan “tidak” ketika memang tidak sanggup.
-
Latihan pernapasan singkat untuk mengalihkan tubuh dari mode tegang.
Namun, ketika overthinking sudah berlangsung bertahun-tahun, sering kali ada hal yang lebih dalam yang perlu dibereskan. Pada titik ini, dukungan profesional bisa membantu mempercepat proses penyembuhan.
Bagi banyak orang, hipnoterapi menjadi cara efektif untuk mengurai akar emosional dari overthinking. Di ICHII, sesi dilakukan secara profesional dan dirancang untuk membantu klien memahami pola lama yang mempengaruhi kehidupan mereka saat ini, terutama pola yang muncul kuat di malam hari. Jika Anda merasa pikiran sulit dikendalikan atau selalu kembali ke kekhawatiran yang sama, konsultasi bisa menjadi langkah awal yang ringan namun berarti.
Menata Pikiran Agar Malam Lebih Tenang
Mengelola overthinking malam hari bukan soal menghilangkan pikiran, tetapi belajar memahami dari mana semuanya berasal. Ketika beban masa lalu, tekanan pekerjaan, atau luka hubungan mulai dikenali, tubuh secara alami lebih mudah rileks. Dengan pendekatan yang tepat, malam hari tidak lagi menjadi “musim evaluasi”, tetapi waktu untuk memulihkan diri agar esok lebih ringan dijalani.