
ICHII – Inner child bukan sekadar istilah populer dalam dunia psikologi, namun menjadi bagian penting dalam proses pertumbuhan dan pemulihan pribadi. Hal ini menjadi fokus utama dalam seminar bertajuk “Let’s Talk About It: What is Inner Child? Inner Child Work is Essential” yang diselenggarakan oleh ICF Makati pada Sabtu, 12 Oktober 2024 pukul 13.00 waktu setempat.
Seminar ini menghadirkan dr. Ingrid Siahaan Hooley, CHt®, seorang dokter umum sekaligus praktisi hipnoterapi klinis yang telah berpengalaman menangani berbagai isu emosional dan psikologis dalam pendekatan menyeluruh. Dalam sesi ini, dr. Ingrid mengupas tuntas konsep inner child, urgensi penyembuhan luka batin masa kecil, serta dampaknya terhadap kualitas hidup dewasa.
Inner Child: Cermin Diri di Masa Lalu
Mengawali pemaparan, dr. Ingrid menjelaskan bahwa inner child merujuk pada bagian dari diri seseorang yang menyimpan pengalaman masa kecil—baik yang menyenangkan maupun menyakitkan. Inner child bukan semata kenangan, namun juga emosi dan pola perilaku yang terbentuk sejak kecil dan kerap terbawa hingga dewasa.
“Setiap orang memiliki inner child dalam dirinya. Sayangnya, tidak semua menyadari bagaimana luka atau kebutuhan yang tidak terpenuhi di masa lalu dapat memengaruhi sikap kita hari ini,” ungkap dr. Ingrid dalam seminar yang dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pekerja profesional hingga ibu rumah tangga.
Ia menekankan bahwa banyak ketidakseimbangan emosional, konflik relasi, atau rasa cemas yang berlarut-larut berakar dari inner child yang terluka. Menyadari keberadaannya dan melakukan proses healing dianggap sebagai kunci untuk bertumbuh sebagai pribadi yang utuh.
Pentingnya Inner Child Work
Dalam sesi kedua, dr. Ingrid memaparkan berbagai bentuk kerja penyembuhan inner child (inner child work). Mulai dari mengenali pola-pola negatif yang berasal dari masa lalu, berbicara dengan diri kecil melalui journaling, hingga menggunakan pendekatan hipnoterapi untuk mengakses memori bawah sadar.
“Inner child work bukan berarti kita mengungkit masa lalu untuk menyalahkan siapa pun,” jelasnya, “melainkan menghadapinya dengan kasih sayang, agar kita bisa menyembuhkan diri dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri dan orang lain.”
Melalui berbagai studi kasus dan pendekatan praktis, peserta diajak untuk merenungkan kembali pengalaman masa kecil mereka, mengidentifikasi perasaan-perasaan yang selama ini ditekan, serta mulai mengembangkan hubungan internal yang penuh empati dengan bagian diri yang terluka.
Suasana Penuh Empati
Salah satu kekuatan dari seminar ini adalah suasana yang dibangun dengan empati dan rasa saling percaya. Para peserta diberi ruang untuk berbagi pengalaman secara sukarela dan tanpa tekanan. Diskusi terbuka serta tanya-jawab yang dipandu langsung oleh dr. Ingrid menciptakan nuansa reflektif dan mendalam.
Sarah, seorang peserta seminar berusia 29 tahun, mengungkapkan bahwa ini adalah kali pertama ia mendengar secara mendalam tentang inner child. “Saya mulai menyadari bahwa banyak ketakutan saya hari ini berasal dari pengalaman kecil yang belum pernah saya proses. Seminar ini membuka mata saya.”
Peserta lain bernama Jonas mengaku bahwa topik ini membuatnya lebih memahami dinamika emosional yang selama ini ia abaikan. “Sebagai pria, saya jarang membahas luka batin masa kecil. Tapi ternyata itu penting, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga dalam membangun relasi.”
Komitmen ICF Makati dalam Pendampingan Emosional
Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan edukasi dan pemulihan psikologis yang secara rutin diselenggarakan oleh ICF Makati. Lembaga ini berkomitmen untuk menyediakan ruang pertumbuhan yang aman dan berbasis komunitas, terutama di tengah kompleksitas kehidupan modern.
Panitia menyampaikan bahwa antusiasme terhadap topik inner child semakin meningkat, seiring makin terbukanya masyarakat terhadap isu kesehatan mental dan emosional. Oleh karena itu, sesi lanjutan dan pelatihan lanjutan direncanakan akan diadakan dalam waktu dekat.